JAKARTA - Ekonom
Universitas Indonesia Didik J Rachbini memberikan peringatan kepada
pemerintah terkait merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang
hari ini menembus Rp 13.000. Apabila nilai tukar tupiah terus merosot,
Didik khawatir Indonesia akan masuk kembali menjadi negara miskin.
"Pemerintah
Jokowi ini harus benar-benar menjaga stabilitas rupiah, jangan
dibiarkan seperti ini. Prestasi kita bisa turun, Ini bisa keluar dari
negara G20, dan pendapatan kita rendah dan bisa kere lagi kita," ujar
Didik saat dihubungi Kompas.com, Jakarta, Senin (2/3/2015).
Dia
menjelaskan, akibat merosotnya nilai tukar rupiah maka akan berdampak
kepada pendapatan negara. Nantinya, pendapatan Indonesia pun bisa
merosot yang saat ini 1 triliun dollar. Apalagi kata dia, nilai ekspor
Indonesia juga terus mengalami kemerosotan. Hal itu dinilai menjadi
salah satu penyebab melempemnya rupiah.
Lalu, Didik juga
menyoroti investor asing yang gemar menyimpan hasil investasinya di luar
negeri. Padahal, para investor itu memanfaatkan sumberdaya alam dan
manusia Indonesia "Tidak hanya investasi asing, ekspor kita juga dibawa
keluar oleh eksportir itu. Enggak bisa itu para eksportir yang pakai
sumber daya alam dalam negeri, SDM dalam negeri tapi menyimpan devisanya
di luar. Harus di dalam negeri, kau kita punya devisa di luar negeri ya
pasti lah kita merosot," kata dia.
Sebelumnya, nilai tukar
rupiah masih dibayangi pelemahan di awa pekan ini, Senin (2/3/2015).
Pada awal perdagangan di pasar spot, rupiah melemah hingga menyentuh
level 13.000. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ini
dibuka melemah ke posisi Rp 12.976 per dollar AS, dibanding penutupan
akhir pekan lalu pada 12.932. Pada pukul 08.51, rupiah bahkan menyentuh
posisi 13.000.
Namun rupiah berhasil kembali berada di bawah
level 13.000, dan hingga pukul 16.00 WIB berada di posis Rp 12.970 per
dollar AS, atau melemah 38 poin dibanding penutupan kemarin pada 12.932.
Sementara
kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank
Indonesia hari ini dipatok pada Rp 12.993 per dollar AS, melemah
dibanding akhir pekan lalu di posisi 12.863.
Sumber : bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/03/02/163300126/Pengamat.Rupiah.Terus.Melorot.Kita.Bisa.Jadi.Negara.Kere.Lagi
Best Solution
Selasa, 03 Maret 2015
Tarif KA Ekonomi Naik Gila-gilaan karena Inflasi & BBM
SEMARANG - Kereta Api kelas ekonomi jurusan Semarang
tujuan Jakarta, Tawang Jaya, dipastikan bakal mengalami kenaikan tarif
tiket sebesar Rp20 ribu per 1 April 2015.
Manajer Humas PT KAI Daerah Operasional 4 Semarang, Suprapto, menyatakan faktor utama kenaikan tarif tiket kereta Tawang Jawa akibat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang fluktuatif.
"Kereta Api Tawang Jaya dari Rp45 ribu menjadi Rp65 ribu," kata Suprapto saat dihubungi Okezone, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (3/3/2015).
Menurut Suprapto, kenaikan tarif tiket Tawang Jaya naik cukup signifikan berdasarkan Peraturan Menteri nomor 17 tahun 2015. Suprapto menambahkan faktor lain yang memicu tarif tiket kereta naik adalah kurs dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah. "Selain itu justifikasi pertimbangan kenaikan tarif tiket, karena kenaikan BBM dan kenaikan tarif dasar listrik,” ungkap Suprapto.
Menurut Suprapto, per 2 Januari 2015, Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengucurkan subsidi sebesar Rp1,52 triliun. "Jumlah tersebut naik sekitar Rp240 miliar dari tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp1,224 triliun," terang Suprapto.
Berikut daftar perubahan harga tiket kereta api kelas ekonomi yang melintas di wilayah PT Kereta Api Indonesia Daop 4 Semarang:
1. KA Tawang Jaya dari Stasiun Semarang Poncol menuju Stasiun Pasar Senen. Dari Rp45 ribu menjadi Rp 65 ribu.
2. KA Tegal Arum dari Stasiun Tegal menuju Jakarta Kota. Dari Rp25 ribu menjadi Rp50 ribu.
3. KA Kertajaya dari Surabaya Pasar Turi menuju Stasiun Pasar Senen. Dari Rp50 ribu menjadi Rp 90 ribu.
4. KA Brantas dari Stasiun Kediri menuju Stasiun Pasar Senen. Dari Rp55 ribu menjadi Rp90 ribu.
5. KA Matarmaja dari Stasiun Malang menuju Stasiun Pasar Senen. Dari Rp65 ribu menjadi Rp115 ribu.
Sumber : http://economy.okezone.com/read/2015/03/03/320/1113190/tarif-ka-ekonomi-naik-gila-gilaan-karena-inflasi-bbm
Manajer Humas PT KAI Daerah Operasional 4 Semarang, Suprapto, menyatakan faktor utama kenaikan tarif tiket kereta Tawang Jawa akibat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang fluktuatif.
"Kereta Api Tawang Jaya dari Rp45 ribu menjadi Rp65 ribu," kata Suprapto saat dihubungi Okezone, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (3/3/2015).
Menurut Suprapto, kenaikan tarif tiket Tawang Jaya naik cukup signifikan berdasarkan Peraturan Menteri nomor 17 tahun 2015. Suprapto menambahkan faktor lain yang memicu tarif tiket kereta naik adalah kurs dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah. "Selain itu justifikasi pertimbangan kenaikan tarif tiket, karena kenaikan BBM dan kenaikan tarif dasar listrik,” ungkap Suprapto.
Menurut Suprapto, per 2 Januari 2015, Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengucurkan subsidi sebesar Rp1,52 triliun. "Jumlah tersebut naik sekitar Rp240 miliar dari tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp1,224 triliun," terang Suprapto.
Berikut daftar perubahan harga tiket kereta api kelas ekonomi yang melintas di wilayah PT Kereta Api Indonesia Daop 4 Semarang:
1. KA Tawang Jaya dari Stasiun Semarang Poncol menuju Stasiun Pasar Senen. Dari Rp45 ribu menjadi Rp 65 ribu.
2. KA Tegal Arum dari Stasiun Tegal menuju Jakarta Kota. Dari Rp25 ribu menjadi Rp50 ribu.
3. KA Kertajaya dari Surabaya Pasar Turi menuju Stasiun Pasar Senen. Dari Rp50 ribu menjadi Rp 90 ribu.
4. KA Brantas dari Stasiun Kediri menuju Stasiun Pasar Senen. Dari Rp55 ribu menjadi Rp90 ribu.
5. KA Matarmaja dari Stasiun Malang menuju Stasiun Pasar Senen. Dari Rp65 ribu menjadi Rp115 ribu.
Sumber : http://economy.okezone.com/read/2015/03/03/320/1113190/tarif-ka-ekonomi-naik-gila-gilaan-karena-inflasi-bbm
Tarif Listrik Turun
Jakarta - Di saat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan
elpiji 12 kilogram di pasaran, rata-rata tarif listrik justru mengalami
penurunan mulai 1 Maret 2015.
Direktur Jenderal Ketenaga Listrikan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, Jarman mengatakan, penentuan tarif tenaga listrik (TTL) tersebut mengacu harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP), kurs dolar dan inflasi.
Tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga golongan 1.300 voltampere (VA)- 2.200 VA tetap karena pemerintah masih memberikan subsidi. Delapan golongan pelanggan tercatat mengalami penurunan harga. Hanya pelanggan pemerintah P-1 dengan daya 6.600 VA-200 kilovolt ampere (kVA) yang mengalami kenaikan tarif.
Lengkapnya, dikutip Liputan6.com dari situs resmi PT PLN (Persero), Senin (2/3/2015), berikut tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga, industri dan bisnis:
1. Golongan R-1 dengan daya 1.300 VA dengan tarif Rp 1352 per kilowatthour (kWh) pada Maret 2015, jika dibandingkan dengan tarif listrik Februari tetap.
2. Golongan R1 dengan daya 2.200 VA dengan tarif Rp 1.352 per kWh, jika dibandingkan dengan tarif listrik Feruari tetap.
3. Golongan R2 dengan daya 3.500 VA-5.500 VA dengan tarif Rp 1426, 58 per kWh, mengalami penurunan dibandingkan TTL Februari Rp 1.468,25 per kWh.
4. Golongan R3 dengan daya 6.600 VA ke atas dengan tarif Rp 1.426, 58 Per Kwh, mengalami penurunan dibandingkan TTL Februari Rp 1468,25 per kWh.
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/2184056/tarif-listrik-turun-di-awal-maret-cek-di-sini-daftar-lengkapnya
Direktur Jenderal Ketenaga Listrikan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, Jarman mengatakan, penentuan tarif tenaga listrik (TTL) tersebut mengacu harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP), kurs dolar dan inflasi.
Tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga golongan 1.300 voltampere (VA)- 2.200 VA tetap karena pemerintah masih memberikan subsidi. Delapan golongan pelanggan tercatat mengalami penurunan harga. Hanya pelanggan pemerintah P-1 dengan daya 6.600 VA-200 kilovolt ampere (kVA) yang mengalami kenaikan tarif.
Lengkapnya, dikutip Liputan6.com dari situs resmi PT PLN (Persero), Senin (2/3/2015), berikut tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga, industri dan bisnis:
1. Golongan R-1 dengan daya 1.300 VA dengan tarif Rp 1352 per kilowatthour (kWh) pada Maret 2015, jika dibandingkan dengan tarif listrik Februari tetap.
2. Golongan R1 dengan daya 2.200 VA dengan tarif Rp 1.352 per kWh, jika dibandingkan dengan tarif listrik Feruari tetap.
3. Golongan R2 dengan daya 3.500 VA-5.500 VA dengan tarif Rp 1426, 58 per kWh, mengalami penurunan dibandingkan TTL Februari Rp 1.468,25 per kWh.
4. Golongan R3 dengan daya 6.600 VA ke atas dengan tarif Rp 1.426, 58 Per Kwh, mengalami penurunan dibandingkan TTL Februari Rp 1468,25 per kWh.
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/2184056/tarif-listrik-turun-di-awal-maret-cek-di-sini-daftar-lengkapnya
Rupih Akhirnya Rp 13.000 per Dolar AS
Jakarta - Nilai tukar rupiah akhirnya menembus level 13.000 per dolar AS awal pekan ini. Rupiah tercatat terus bergerak melemah menanti data inflasi yang akan diumumkan siang hari ini.
Data valuta asing Bloomberg, Senin (2/3/2015), menunjukkan nilai tukar rupiah menembus level 13.000 per dolar AS. Rupiah tercatat sempat menyentuh level 13.001 per dolar AS pada perdagangan pukul 8:53 waktu Jakarta.
Nilai tukar rupiah kembali melanjutkan pelemahan akhir pekan lalu dengan dibuka melemah di level 12.976 per dolar AS. Hingga menjelang siang, nilai tukar rupiah masih berfluktuasi melemah di kisaran 12.975 - 13.001 per dolar AS.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat nilai tukar rupiah melemah cukup signifikan ke level 12.993 per dolar AS.
Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Dian Ayu Yustina menjelaskan, rupiah sebenarnya sudah melemah cukup parah saat berada di kisaran 12.800 per dolar AS. Namun bukan tidak mungkin rupiah menembus level 13.000 per dolar AS.
"Seluruh data-data (ekonomi domestik) sudah keluar ya, bulan depan pasar menanti pengumuman tingkat inflasi yang diprediksi akan berkurang dan dapat memberikan sentimen positif," ujar Dian.
Dalam hal ini, Dian menekankan, yang terpenting adalah ada intervensi dari Bank Indonesia agar rupiah tidak terperosok terlalu dalam di level 13.000 per dolar AS. Pasalnya, level tersebut menunjukkan volatilitas rupiah telah cukup tinggi dan BI bertugas mengatasinya.
Sebelumnya, kemungkinan rupiah mencapai 13.000 per dolar AS juga disampaikan Ekonom Standard Chartered Bank Indonesia, Eric Alexander Sugandi. Dia melihat faktor psikologis yang banyak dipicu sentimen eksternal membuat pergerakan rupiah masih sangat rentan. (Sis/Ndw)
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/2183919/rupiah-akhirnya-tembus-13000-per-dolar-as
Data valuta asing Bloomberg, Senin (2/3/2015), menunjukkan nilai tukar rupiah menembus level 13.000 per dolar AS. Rupiah tercatat sempat menyentuh level 13.001 per dolar AS pada perdagangan pukul 8:53 waktu Jakarta.
Nilai tukar rupiah kembali melanjutkan pelemahan akhir pekan lalu dengan dibuka melemah di level 12.976 per dolar AS. Hingga menjelang siang, nilai tukar rupiah masih berfluktuasi melemah di kisaran 12.975 - 13.001 per dolar AS.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat nilai tukar rupiah melemah cukup signifikan ke level 12.993 per dolar AS.
Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Dian Ayu Yustina menjelaskan, rupiah sebenarnya sudah melemah cukup parah saat berada di kisaran 12.800 per dolar AS. Namun bukan tidak mungkin rupiah menembus level 13.000 per dolar AS.
"Seluruh data-data (ekonomi domestik) sudah keluar ya, bulan depan pasar menanti pengumuman tingkat inflasi yang diprediksi akan berkurang dan dapat memberikan sentimen positif," ujar Dian.
Dalam hal ini, Dian menekankan, yang terpenting adalah ada intervensi dari Bank Indonesia agar rupiah tidak terperosok terlalu dalam di level 13.000 per dolar AS. Pasalnya, level tersebut menunjukkan volatilitas rupiah telah cukup tinggi dan BI bertugas mengatasinya.
Sebelumnya, kemungkinan rupiah mencapai 13.000 per dolar AS juga disampaikan Ekonom Standard Chartered Bank Indonesia, Eric Alexander Sugandi. Dia melihat faktor psikologis yang banyak dipicu sentimen eksternal membuat pergerakan rupiah masih sangat rentan. (Sis/Ndw)
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/2183919/rupiah-akhirnya-tembus-13000-per-dolar-as
Harga Premium Rp 7.500,- / Liter
Jakarta - Pemerintah baru saja menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium menjadi
Rp 6.800 per liter mulai 1 Maret 2015. Kenaikan itu sejalan dengan
menguatnya harga minyak di pasar internasional dan pergerakan nilkai
tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Lalu apakah harga BBM bakal naik lagi?
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmaja memperkirakan harga premium paling mahal Rp 7.500 per liter pada tahun ini.
Sedangkan harga minyak dunia pada tahun ini bakal mengalami fluktuasi antara US$ 55 per barel sampai US$ 60 per barel.
"Sekarang kita lihat harga minyak jenis Brent sekitar US$ 59 per barel, artinya ada pergerakan ada naik turun," kata Wira di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (3/3/2015).
Menurut Wira, harga minyak dunia akan berkutat pada besaran angka tersebut saja, sehingga paling mahal harga premium Rp 7.500 per liter. Selain harga minyak dunia, harga premium dengan besaran tersebut disebabkan oleh pelemahan rupiah.
"Tapi fluktuasinya sekitar itu saja. Harusnya di level Rp 7.000, sebab rupiah turun drastis dan itu yang membuat BBM naik. Saya kira US$ 7.500 per liter itu kalau ICP US$ 65 per barel," tuturnya.
Dia menjelaskan, pembentukan harga premium pada awal Maret 2015 naik Rp 200 per liter menjadi Rp 6.800 per liter atas patokan harga minyak US$ 54 per barel.
"Harga naik karena ICP Februari US$ 54 per barel," pungkas Wira. (Pew/Ndw)
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/2184844/tahun-ini-harga-premium-paling-mahal-rp-7500-per-liter
Lalu apakah harga BBM bakal naik lagi?
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmaja memperkirakan harga premium paling mahal Rp 7.500 per liter pada tahun ini.
Sedangkan harga minyak dunia pada tahun ini bakal mengalami fluktuasi antara US$ 55 per barel sampai US$ 60 per barel.
"Sekarang kita lihat harga minyak jenis Brent sekitar US$ 59 per barel, artinya ada pergerakan ada naik turun," kata Wira di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (3/3/2015).
Menurut Wira, harga minyak dunia akan berkutat pada besaran angka tersebut saja, sehingga paling mahal harga premium Rp 7.500 per liter. Selain harga minyak dunia, harga premium dengan besaran tersebut disebabkan oleh pelemahan rupiah.
"Tapi fluktuasinya sekitar itu saja. Harusnya di level Rp 7.000, sebab rupiah turun drastis dan itu yang membuat BBM naik. Saya kira US$ 7.500 per liter itu kalau ICP US$ 65 per barel," tuturnya.
Dia menjelaskan, pembentukan harga premium pada awal Maret 2015 naik Rp 200 per liter menjadi Rp 6.800 per liter atas patokan harga minyak US$ 54 per barel.
"Harga naik karena ICP Februari US$ 54 per barel," pungkas Wira. (Pew/Ndw)
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/2184844/tahun-ini-harga-premium-paling-mahal-rp-7500-per-liter
Kenaikkan Harga Premium karena Pelemahan Rupiah
Jakarta - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium
yang berlaku pada 1 Maret 2015 tak hanya dipengaruhi oleh kenaikan
harga minyak dunia tetapi dipengaruhi juga oleh pelemahan nilai tukar
rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said mengatakan, penyebab utama kenaikan harga premium menjadi Rp 6.800 per liter ada dua. Pertama dipicu oleh kenaikan patokan harga BBM atau Mean Of Plates Singapura (MOPS) pada Pebruari 2015 dan kedua pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Tren bulan lalu terlihat bahwa BBM itu kira-kira mengalami kenaikan. Plus juga kebetulan dolar menguat artinya rupiah melemah jadi berpengaruh pada harga keekonomian," kata Sudirman, di kawasan Cikini Jakarta, Minggu (1/3/2015).
Menurut Sudirman, jika pemerintah tak menaikan harga premium maka akan timbul selisih yang besar antara harga sebenarnya dan harga jual ke masyarakat. "Kalau selisih harga dari bulan ke bulan tidak besar maka kami pakai harga yang sama. Tapi begitu selisih harga besar kami sesuaikan," ungkapnya.
Ia menambahkan, dengan kenaikan MOPS dan pelemahan rupiah seharusnya harga solar subsidi juga mengalami kenaikan. Pasalnya pemerintah telah menerapkan subsidi tetap Rp 1000 per liter. Namun, karena pertimbangan ekonomi, pemerintah tak mengubah harga solar.
"Solar juga harusnya naik. Tapi karena masyarakat baru saja mengalami tekanan kenaikan harga elpiji dan beras dan lainnya maka kami sesuaikan kenaikannya hanya Rp 200 rupiah untuk premium," pungkasnya.
Membebani masyarakat
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bhaktiar pun menyesalkan langkah pemerintah menaikkan harga premium tersebut. Pasalnya, di tengah kenaikan harga barang pokok seperti beras, elpiji dan lainnya, pemerintah justru memberikan beban tambahan kepada masyarakat.
"Seharusnya harga BBM jenis Premium RON 88 tidak perlu naik. Pemerintah tidak bijak kalau menaikkan harga BBM premium saat ini", ujarnya di Jakarta, Minggu (1/3/2015).
Ia mengatakan, harga minyak dunia dan harga rata-rata MOPS memang mengalami kenaikan, namun kenaikannya tidak siginifikan sehingga seharusnya pemerintah belum perlu untuk menaikkan harga premium.
Pada Januari 2015, harga minyak dunia turun hingga US$ 44 per barel. Seharusnya, pada awal Februari 2015 harga BBM turun lagi. Namun, saat harga minyak dunia turun di awal tahun lalu, pemerintah tidak segera menurunkan harga BBM. Sebaliknya, saat harga minyak dunia naik, pemerintah langsung menaikkan harga premium.
"Bahkan saat itu, Menteri ESDM telah menyepakati bersama DPR RI bahwa harga BBM solar akan turun berkisar Rp 200 sampai Rp 400 per liternya mulai 15 Februari 2015, tetapi ternyata pemerintah tidak tepati," jelasnya.
"Dalam konteks ini, pemerintah tidak konsisten," tambahnya. (Pew/Gdn)
Sumber : https://m.liputan6.com/bisnis/read/2183767/kenaikan-harga-premium-dipicu-pelemahan-rupiah
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said mengatakan, penyebab utama kenaikan harga premium menjadi Rp 6.800 per liter ada dua. Pertama dipicu oleh kenaikan patokan harga BBM atau Mean Of Plates Singapura (MOPS) pada Pebruari 2015 dan kedua pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Tren bulan lalu terlihat bahwa BBM itu kira-kira mengalami kenaikan. Plus juga kebetulan dolar menguat artinya rupiah melemah jadi berpengaruh pada harga keekonomian," kata Sudirman, di kawasan Cikini Jakarta, Minggu (1/3/2015).
Menurut Sudirman, jika pemerintah tak menaikan harga premium maka akan timbul selisih yang besar antara harga sebenarnya dan harga jual ke masyarakat. "Kalau selisih harga dari bulan ke bulan tidak besar maka kami pakai harga yang sama. Tapi begitu selisih harga besar kami sesuaikan," ungkapnya.
Ia menambahkan, dengan kenaikan MOPS dan pelemahan rupiah seharusnya harga solar subsidi juga mengalami kenaikan. Pasalnya pemerintah telah menerapkan subsidi tetap Rp 1000 per liter. Namun, karena pertimbangan ekonomi, pemerintah tak mengubah harga solar.
"Solar juga harusnya naik. Tapi karena masyarakat baru saja mengalami tekanan kenaikan harga elpiji dan beras dan lainnya maka kami sesuaikan kenaikannya hanya Rp 200 rupiah untuk premium," pungkasnya.
Membebani masyarakat
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bhaktiar pun menyesalkan langkah pemerintah menaikkan harga premium tersebut. Pasalnya, di tengah kenaikan harga barang pokok seperti beras, elpiji dan lainnya, pemerintah justru memberikan beban tambahan kepada masyarakat.
"Seharusnya harga BBM jenis Premium RON 88 tidak perlu naik. Pemerintah tidak bijak kalau menaikkan harga BBM premium saat ini", ujarnya di Jakarta, Minggu (1/3/2015).
Ia mengatakan, harga minyak dunia dan harga rata-rata MOPS memang mengalami kenaikan, namun kenaikannya tidak siginifikan sehingga seharusnya pemerintah belum perlu untuk menaikkan harga premium.
Pada Januari 2015, harga minyak dunia turun hingga US$ 44 per barel. Seharusnya, pada awal Februari 2015 harga BBM turun lagi. Namun, saat harga minyak dunia turun di awal tahun lalu, pemerintah tidak segera menurunkan harga BBM. Sebaliknya, saat harga minyak dunia naik, pemerintah langsung menaikkan harga premium.
"Bahkan saat itu, Menteri ESDM telah menyepakati bersama DPR RI bahwa harga BBM solar akan turun berkisar Rp 200 sampai Rp 400 per liternya mulai 15 Februari 2015, tetapi ternyata pemerintah tidak tepati," jelasnya.
"Dalam konteks ini, pemerintah tidak konsisten," tambahnya. (Pew/Gdn)
Sumber : https://m.liputan6.com/bisnis/read/2183767/kenaikan-harga-premium-dipicu-pelemahan-rupiah
Isu Ekonomi Kenaikan Harga Beras
JAKARTA - Harga beras di sejumlah daerah mengalami
kenaikan. Bahkan timbul spekulasi adanya permainan dari mafia sehingga
membuat harga beras meroket.
Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron, penyebab
kenaikan harga beras salah satunya adalah karena pengaruh isu-isu
ekonomi yang dilontarkan pemerintah.
"Beras merupakan komoditas yang sangat sensitif. Isu-isu jangan
terlalu dilontarkan oleh pejabat. Salah satunya soal isu raskin (beras
miskin) dihapus yang bakal diganti dengan e-money ,ini
berimplikasi. Karena pelaku beras akan menahan berasnya," kata dia dalam
diskusi Polemik Sindo Trijaya Fm di Jakarta, Sabtu (28/2/2015).
Menurut dia, agar harga beras dapat stabil, pemerintah dalam hal ini Bulog
harus mampu untuk menjaga stok nasional dan stabilisasi harga. Karena,
hal tersebut sudah diamanatkan dalam Undang-Undang Pangan Nomor 18 tahun
2012.
"Dalam UU Nomor 18 tahun 2012 itu sudah tertuang jelas. Tapi sayangnya implementasinya belum tampak," tambah dia.
Sementara itu menurut Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis
(Bapokstra) Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, Robert J Bintaryo, gejolak harga beras ini terjadi karena kurangnya pasokan beras untuk rakyat miskin (raskin).
"Beras raskin itu untuk 15,5 juta jiwa. Dan itu terlambat dibagikan pada bulan November-Desember. Sehingga jika itu tidak tersedia mereka tentu akan masuk ke pasar," tutup dia.
Sementara itu menurut Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis
(Bapokstra) Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, Robert J Bintaryo, gejolak harga beras ini terjadi karena kurangnya pasokan beras untuk rakyat miskin (raskin).
"Beras raskin itu untuk 15,5 juta jiwa. Dan itu terlambat dibagikan pada bulan November-Desember. Sehingga jika itu tidak tersedia mereka tentu akan masuk ke pasar," tutup dia.
(rzk)
Sumber : http://economy.okezone.com/read/2015/02/28/320/1111818/isu-ekonomi-penyebab-kenaikan-harga-beras
Langganan:
Postingan (Atom)